Karma Kucing

Hampir pasti bahwa semua orang tahu pesan para orang saat seseorang menabrak seekor kucing di jalan.
Bahwa sang penabrak harus berhenti dan kemudian menolong atau menguburkan kucing tersebut.
Sebagian versi menyebutkan bahwa penabrak harus menguburkan dengan tangannya sendiri dan membungkus kucing yang ditabraknya tersebut dengan baju yang dipakainya saat menabrak.
Versi lain bahkan mengharuskan penabrak menghitung bulu kucing tersebut.
Semua hal itu di bawah ancaman karma bahwa kesialan hebat akan menimpa penabrak bila hal-hal di atas tidak dilakukan.
Bila setelah menabrak kucing penabrak tidak langsung menguburkannya, apalagi kabur begitu saja.

Saya termasuk orang yang menghargai pendapat orang-orang tua, petuah dan pamali … termasuk hal di atas, saya percaya bahwa petuah dan pamali diturunkan setelah melalui penelaahan panjang, pemikiran mendalam dari generasi ke generasi…. adalah tugas kita memahami dan mengartikannya menjadi kearifan yang logis.
Saya mengartikan karma kucing di atas sebagai petuah untuk menjadi manusia, untuk menjadi insan yang bertanggung jawab, yang penuh cinta kasih terhadap sesama makhluk hidup… untuk bisa berdiri dengan jati diri sebagai manusia.
Kucing mati tidak sengaja tertabrak, kucing salah sendiri lari di jalan.. adalah sama sekali bukan pembenaran supaya penabrak bisa lari begitu saja, walau semua memang tidak dilakukan dengan rencana… tapi saat kucing itu mati, maka kita diuji rasa kemanusian kita untuk bersikap sebagaimana manusia dengan memulasara kucing mati tersebut.

Pemahaman di atas membenarkan ucapan beberapa saksi mata kejadian tabrak lari di Jl Rusa Raya, perumahan Cikarang Baru pada Siang 17 Agustus 2012 lalu di mana ananda Zahra Amelia menjadi korban meninggal, beberapa saksi mata dengan spontan mengucapkan kalimat: “BUKAN MANUSIA ITU SUPIR YANG NABRAK…BUKAN, … BINATANG KALI MEUREUN”, ujar mereka… dan Mereka mengucapkannya dengan geram, sangat terlihat dari gestur dan raut wajah mereka.
Bagaimana tidak, setelah menabrak, kemudian menyeret dan menggilas tubuh mungil Zahra, penabrak langsung kabur, bahkan hendak menabrak saja beberapa saksi mata yang mencoba menghentikan usaha kabur supir pengecut itu.
Terlihat jelas bahwa penabrak tidak memiliki rasa sebagai manusia, tidak menghargai sejumput nyawa yang telah dia renggut, tidak menghargai manusia… dia BUKAN MANUSIA.

Banyak kesaksian bahwa setelah seseorang menabrak mati kucing di jalan, mereka dihantui rasa bersalah, datang mimpi buruk dalam waktu-waktu setelahnya, bahkan bila mereka pun sudah memulasara kucing tersebut sebagaimana petuah orang tua….. Maka karma itu pun akan mengejar supir pengecut penabrak lari Zahra, kemanapun dia pergi pasti karma akan terus mengejar… tidak di lingkungan tempat tinggal, di pergaulan bersama teman, di keluarga, di sekolah, di tempat kerja…. terus karma itu akan mengejar…. tak akan dilepaskannya jiwa bersalah itu dari cengkeraman karma… !

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s