7 Era Legenda : 1 – The Three Musketeers

7 Era Legenda Dalam 7 tahap pengungkapan kasus Tabrak Lari Rusa Raya

Era pertama pada malam pertama: Era “Three Musketeers”

17 Agustus ba’da sholat Jum’at, Group Whatsapp CBC dikagetkan oleh berita meninggalnya Zahra – putri tersayang pak Sanusi, mantan ketua CBC periode pertama, saat itu sebagian besar anggota CBC banyak yang sudah mendarat di kampung halaman masing masing untuk menyambut Idul Fitri yang akan datang dua hari menjelang.

Sebagian anggota CBC yang masih berada di CIkarang kemudian menjadi wakil untuk ikut menghadiri dan memulasara jenazah ananda Zahra sampai ke penguburan di TPU Kandang Gereng – Jayamukti.
Beberapa yang hadir diantaranya adalah pak Sulistiyo W yang notabene adalah founding fathernya CBC, pak Ipung, pak Ribut, pak Nana, pak Ari, pak Adhi dan lainnya ….
Anggota CBC yang sudah di kampung halaman hanya bisa menitipkan belasungkawa untuk disampaikan pada keluarga yang ditinggalkan dan berkirim doa.
Namun demikian, dua orang anggota yang kampung halaman tujuan mudiknya tidak terlalu jauh kemudian kembali ke Cikarang untuk keperluan melayat, beliau adalah pak Imam yang balik arah dari Bandung dan pak Harminto dari Tanggerang.

Setelah pemulasaraan selesai ada dorongan dari semua anggota untuk dapat mengungkap kasus ini. Dasar utama dari dorongan tersebut adalah kaburnya penabrak lari dan itu tidak bisa dibiarkan, selain keadilan harus ditegakkan, bahwa pengungkapan kasus ini akan dapat mengurangi potensi terulangnya kejadian serupa di masa yang akan datang.

Dalam kondisi seperti itu, di mana sebagian besar anggota yang menginginkan kasus ini terungkap secara tuntas malah jauh dari Cikarang, maka ide-ide yang dituangkan kemudian menjadi harus dilaksanakan oleh anggota yang masih ada di Cikarang.
Mereka yang di Cikarang, dimotori oleh pak Sulis kemudian melakukan dua hal yang sangat penting: pertama adalah menghimpun informasi dan melakukan verifikasi akan dugaan-dugaan seputar kasus tabrak lari ini, termasuk mendata para saksi mata dan mengkonfirmasi informasi dengan para saksi mata tersebut.
kedua, mendampingi pihak korban untuk membukukan laporan kecelakaan yang mengakibatkan hilangnya nyawa seseorang ke Unit Kecelakaan Lalulintas PolRes Bekasi.
Malam di tanggal 17 itu 3 orang anggota CBC bergerilya mengumpulkan sebanyak mungkin informasi, dan besoknya mereka mendampingi pak Sanusi membukukan laporan kecelakan kepada kepolisian.

Inilah awal dari bergulirnya semangat pengungkapan kasus tabrak lari demi tegaknya keadilan di dalam tubuh CBC.
Anggota yang di luar Cikarang hanya bisa memantau dan mengusulkan ide dan keinginan, sementara Aksi dan Realisasi dilakukan oleh mereka orang-orang hebat pemberani di lini depan bak Musketeers yang dengan ikhlas meluangkan waktu yang teramat berharga di penghujung Ramadhan itu untuk menjaga dan meningkatkan momentum semangat pengungkapan kasus tabrak lari tersebut.
Andai anggota yang ada di Cikarang tidak berinisiatip mengambil langkah berani itu, maka semua ide dan keinginan dari anggota dari masing masing kampung halaman hanya akan menguap begitu saja dan kasus ini tidak pernah ada.

Terima kasih dari saya yang termasuk anggota yang sudah mudik pada mereka yang beraksi nyata di Cikarang mulai dari detik pertama.

=== Bersampung ke Era kedua : Crime Scene Investigation ===

Kronologi Kecelakaan

tulisan di bawah ini dibuat oleh ayahanda korban dari sudut pandang beliau
saat ini banyak versi kronologi yang beredar dan kebanyakan mengandung informasi yang salah bahkan menyesatkan
semoga dengan adanya tuturan kronologi dari orang pertama ini bisa meluruskan simpang siurnya informasi

 

Pada tanggal 17 Agusutus 2012 hari Jumat jam 10.30 saya Bersama keluarga yang berjumlah 4 orang yang bernama M. Sanusi (Ayah), Elida (Ibu), Zahra Amelia Sanusi (7 thn anak ke2) dan Rasyad Andhika Sanusi (4 thn anak ke3 ) berencana akan ke Carefoure Cikarang mengendarai Mobil Toyota Avanza warna Biru telur Asin.. Perlu diketahui bahwa mobil Avanza ini adalah mobil yang kesehariannya dibawa oleh Istri saya untuk mengantar dan menjemput anak saya sekolah di SDIT Al Ikhwan. Pada saat mobil berjalan beberapa menit Istri saya Elida memberitahukan bahwa Ban Serep dalam kondisi tidak baik yaitu terdapat benjolan disamping karena masuk lubang yang besar pada kecepatan yang lumayan cepat. Oleh karena itu maka niat ke Carefour membawa anak-anak untuk belanja dan bermain ditunda dan kami langsung ke Toko Ban “Mekar Jaya Ban” disekitar depan perumahan Taman Sentosa.
Pada saat Ban Serep dibongkar untuk digantikan Ban yang baru montir ban bicara “Pak.. Mur penyangga ban Serepnya tidak ada, jadi bagaimana nih…” lalu saya jawab “Tidak munggkin tidak ada, kalau tidak ada pasti Ban Serep saya akan lepas sejak tadi waktu saya berangkat..” Ternyata setelah saya cek memang mur tersebut tidak ada dan penyangga Ban Serep tertahan di Bumper sehingga tidak jatuh. Setelah selesai mengganti Ban Serep dengan ban yang baru maka ban Serep ditaruh dibagasi dan penyangga diikat dengan tali agar tidak lepas. Pada saat yang bersamaan Istri saya berkata bahwa kemungkinan Mur penyangga ban Serep tersebut tertinggal di bengkel Tambal ban Jl. Rusa Raya karena beberapa hari yang lalu mobil tersebut kempes bannya dan diganti dengan ban Serep untuk sementara. Dari cerita tersebut maka kami putuskan untuk langsung menuju bengkel Tambal Ban di Jl. Rusa Raya dan diperjalanan saya berusaha mencari toko baut yang buka namun semua toko baut tutup.
Pada saat mobil yang kami kendarai memasuki Jl. Rusa Raya sekitar jam 12.00 anak saya Zahra melihat pedagang mainan serta Asesoris wanita dan anak-anak. Didalam mobil dia meminta kepada Ibunya untuk dibelikan gulungan rambut namun ditolak keras oleh Ibunya karena berada dipinggir jalan dan pada saat itu panas sekali serta disarankan agar membeli Gulungan Rambut tersebut dibeli setelah urusan Ban Serep selesai. Pada saat mobil kami merapat ke Bengkel Tambal Ban yang berada dikanan jalan saya dan istri saya turun menjumpai Ucok sang penambal Ban dan kami utarakan maksud kedatangan kami. Pada saat itu pula anak saya Zahra berusaha turun dari mobil namun kelihatan oleh Ibunya dan denga sigap disuruh masuk kembali ke mobil. Zahra duduk dibangku baris ke 2 disisi kiri yang langsung mengarah ke Jalan Raya sedangkan Istri saya duduk dikursi penumpang samping kursi pengemudi.
Pada saat Ucok sang penambal Ban dan saya menuju ke bagasi mobil untuk memperlihatkan Mur penyangga Ban Serep yang hilang, Ucok bersikeras bahwa dia telah memasang mur tersebut dan tidak bisa dihindari kami berdua saling berargumentasi. Mendengar kondisi demikian Istri saya sebagai pengemudi yang pada saat itu menambal ban merasa terusik dengan argument Ucok sehingga dia keluar dari Mobil melewati depan mobil. Tanpa disadarinya Zahra mencuri kesempatan untuk keluar dari Mobil menuju Penjual Mainan dan pada saat yang besamaan datang Avanza Silver menabrak tubuh Zahra yang mungil dengan keras. Seketika itu juga saya menoleh kebelakang dan saya lihat tubuh anak saya berada dikolong mobil sampai akhirnya terlepas dari kolong mobil karena Mobil tersebut tidak berhenti sama sekali. Kepala Zahra penuh dengan luka dan darah segar mengucur deras seketika itu juga nyawa anak kami hilang. Dan sampai tulisan ini diterbitkan Mobil Avanza Silver tersebut belum diketahui keberadaannya.
Pada saat kejadian saya dan beberapa warga yang ada disekitar lokasi berusaha mengejar mobil tersebut tapi malah warga yang mengadang mobil mau ditabrak. Ada juga pengendara sepeda motor yang berusaha mengejar namun tidak dapat karena kecepatan mobil sangat kencang. Pada saat kejadian ada beberapa saksi yang saya kenali yaitu :
1. Bp. Joko tinggal di Jl. Rusa
2. Bp. Dayat tinggal di Kamp. Rawa Sentul
3. Bp. Muis tinggal di Jl. Rusa Raya
4. Bp. Albert Martin (Abang Ucok) pemilik Bengkel

Demikianlah Kronologis kejadian Kecelakaan yang menimpa puti saya Zahra Amelia Sanusi dan tulisan ini saya buat tanpa ada tekanan dan dalam kondisi yang sadar.

Cikarang, 11 September 2012
Hormat Kami

M. Sanusi
Ayah Korban

Banyak Anak di Jalan

Banyak Anak Banyak Rejeki, begitu kata pepatah, entah benar atau tidak…
Namun bila banyak anak-anak di jalanan lingkungan perumahan, anak kami, anak tetangga, anak teman…. anak kita… maka sudah semestinya kita semua berhati-hati…
Sebagai orang tua, kita akan harus mengawasi anak-anak kita, dan sebagai pengguna jalan, kita memiliki tanggung jawab penuh untuk menjaga keselamatan di jalan.
Tidak semestinya kita memacu kendaraan bermotor jenis apapun dengan kecepatan yang membahayakan pengguna jalan lain, terutama anak-anak yang belum memiliki kedewasaan berfikir dan bertanggung jawab.
Mobil, Motor, Sepeda, Pejalan Kaki, Anak-Anak, bahkan Hewan Ternak/Peliharaan yang digembala adalah kesemuanya Pengguna Jalan yang dilindungi undang-undang, dan setiap mereka memiliki hak penggunaan jalan.

Kembali menurut UU 22 tahun 2009 pasal 21, batas kecepatan pada setiap kelas jalan ditentukan secara nasional,
Sedang untuk jalan lingkungan atau perumahan, mengacu pada karakteristik wilayah kota/daerah maka dapat ditetapkan melalui peraturan daerah /PerDa yang ditetapkan kepala daerah, termasuk dengan memasang dan jenis rambu-rambu yang sesuai….

Pada tanggal 17 Agustus 2012, tengah hari bolong, ananda Zahra menjadi korban tabrak lari oleh sebuah kendaraan Avanza Silver di Jalan perumahan di Cikarang Baru, Jalan Rusa Raya. Pelaku penabrak lari diduga melarikan kendaraan dengan kecepatan tinggi, jauh melebihi ketentuan wajar kecepatan kendaraan di jalan lingkungan perumahan, terbukti dengan tewasnya korban tabrak lari.
Pengendara kendaraan Avanza Silver itu kabur melarikan diri dari tanggung jawabnya dan sampai tulisan ini dibuat belum ada berita penangkapan pengecut kerdil itu ataupun penahanannya.

Upaya dari setiap sisi HARUS digerakan untuk mencegah kejadian yang tidak diinginkan itu terjadi lagi.
Menangkap pelaku tabrak lari adalah kewajiban kepolisian setelah kasus ini secara resmi dilaporkan pada unit laka polres bekasi kabupaten.
Menangkap pelaku dan mengganjarnya dengan hukuman setimpal adalah keharusan, dan bila itu tidak dilakukan, maka salah satu maniac pelanggar ketentuan lalu lintas akan terus bebas berkeliaran, mengancam nyawa setiap siapa yang lewat di jalanan yang sama dengan si maniac tersebut.

Dari sisi kita sebagai warga, selain menjaga anak-anak kita, kita juga bisa membantu saling mengingatkan di jalanan, memelihara rambu-rambu dan marka jalan yang sudah ada, atau lebih aktif lagi dengan ikut membuat pengaturan di jalan lingkungan demi keselamatan bersama.

Korban sudah jatuh, potensi penyebab kecelakaan masih terserak berkeliaran, sudah saatnya kita bergerak bersama, mari tata disiplin dan aturan berlalu lintas, mari proaktif, mari saling mengingatkan….
Entah relevan atau tidak, namun unit kerja pemerintahan di level RT dan RW, akan sangat efektif bila ikut ambil bagian dalam penataan lalu lintas jalan lingkungan.
  

Di Balik Perilaku “Tabrak Lari”

13469620511028427957

Solidarity for Zahra (Doc: Sanusi)

Tulisan ini didedikasikan untuk alamarhumah Zahra (8 th), putri tercinta rekan kami bapak Sanusi Reza. Ananda Zahra pastinya sekarang menjelma menjadi “malaikat” di surga sana… yang dengan senang dan ceria akan menggapai tangan ayah dan bundanya untuk naik bersamanya ke surga (by Ananto)

3 minggu sudah berlalu sejak kasus tabrak lari tersebut namun sampai detik ini nampaknya kasus ini masih jauh dari kata “closed” meskipun sekumpulan ‘detektif  goweser’ sudah menemukan titik terang mengenai pelaku beserta saksi-saksinya.  Besar harapan pihak polisi bisa lebih bertindak cepat sehingga warga Cikarang Baru tidak khawatir lagi  dikarenakan pelaku masih berkeliaran dan bisa menyebabkan kejadian ini terulang lagi.

Anyway…dalam tulisan ini saya tidak ingin menanyakan kinerja pihak polisi, meski dalam hati sangat ingin menayakannya… dan bertanya dengan keras … “Pada siapa kita bisa mengadu?” *mode sedih. Yang ingin saya utarakan disini adalah hipotesa“kenapa sih…pelaku melakukannya?”

Tabrak lari??? Mendengar kata itu pasti berjuta rasanya.

Mengerikan dan sedih tidak terkira seandainya terjadi kepada diri sendiri, orang-orang terdekat kita atau kawan kita seperti yang saat ini terjadi.

Geram dan marah…tentu saja… apakah sebegitunya orang tidak punya hati nurani dan rasa tanggung jawab, seperti yang pernah ditulis oleh bapak Amril TG dalam tulisan “Mempertanyakan Tanggung Jawab dan Nurani Pelaku Tabrak Lari”

Tidak habis pikir… ya…kenapa bisa? apalagi seperti dalam kasus ini, terjadi di lingkungan perumahan sendiri (tentunya pelaku mudah dikenali oleh orang sekitar), dengan kondisi jalan sempit dan banyak polisi tidur yang tentunya mobil tidak akan melaju kencang dan kalaupun tertabrak karena lalai..efeknya seharusnya tidak sefatal ini (sampai meninggal).

Iklhas dan sabar…itulah yang keluarga korban lakukan agar ananda Zahra di surga bisa tenang. Namun sebagi pembelajaran dan antisipasi buat kita semua, tentunya rekan-rekan goweser dan komunitas di Cikarang Baru tidak akan bertindak diam.

Oke..kembali ke topik.. “Kenapa sih pelaku melakukannya?”

Hipotesa sangat kuat adalah pelaku ingin terhindar dari suatu kerugian atau menutup aib dirinya. Dalam hal ini dengan sengaja pelaku kabur bahkan menancap gas lebih cepat karena tidak ingin ditangkap polisi / orang -orang dan dimintai tanggung jawab.

Perilaku tersebut sudah masuk dalam kategori “kriminal”.

Disni saya mengasumsikan kenapa pelaku sampai melakukan tindak kriminal tersebut antara lain:

    • Mungkin saja secara fisik yang bersangkutan dalam kodisi tidak sadar, seperti habis mabuk-mabukan, sehingga tidak dapat mengendalikan kemudi dengan baik dan kurang dapat memperhatikan lingkungan.
    • Kontrol diri yang rendah dan bisa jadi disertai intelegensi yang kurang sehingga yang bersangkutan kurang dapat berfikir mana yang baik dan tidak. Buat pelaku yang penting adalah kepuasan atau pemenuhan kebutuhan dirinya yaitu selamat dari kejaran. Dalam hal ini dorongan-dorongan yang ada dalam diri pelaku lebih kuat daripada ego (logika) dan super egonya (norma-norma yang mengatur), sehingga pelaku tidak peduli meski dia tahu apa yang dilakukan salah dan melanggar norma-norma yang ada.
    • Pelaku cenderung berbuat sekehendak hatinya (super ego lemah / tidak memperhatikan norma-norma) ini bisa jadi karena di masa kecilnya (pelaku yang diduga laki-laki)  cenderung mempunyai hubungan yang tidak baik dengan sang ayah dan yang seharusnya belajar identifikasi diri dari sang ayah namun justu dengan ibunya dan pelaku. Kemungkinan lain pelaku kurang mempunya kedekatan kasih sayang dengan keluarganya (baik ibu atau ayah) di masa kecil.
    • Lingkungan di sekitar pelaku, bisa jadi pelaku belajar dari media atau orang-orang disekitarnya yang kurang peka dan bertanggung jawab dan bisa jadi kurangnya bekal agama.
    • Kemungkinan lain antara lain usia yang relatif  muda, kepribadian yang cenderung suka mengambil resiko, dll…

Oke..apapun penyebanya, tulisan diatas hanyalah hipotesa mengenai dinamika yang mungkin terjadi kepada si pelaku. Apapun itu, seandainya memang pelaku orang yang normal (tidak gila atau mengalami gangguan jiwa lainnya) saat ini pastinya yangbersangkutan dalam kondisi tidak tenang dan dikejar-kejar rasa bersalah (dan tentu juga dikejar dalam arti sesungguhnya oleh polisi sebagai buronan).

Manifestasi rasa bersalah ini kalau tidak ditangani dengan baik efeknya bisa seperti gunung es. Berawal dari perasaan tidak percaya diri, tidak layak dan tidak pantas mendapatkan hal-hal baik bahkan secara tidak sadar perilakunya menyabotase hal-hal baik yang terjadi pada dirinya serta cenderung mengkritik diri sendiri secara berlebihan. Perasaan ini bila tertanam dengan dalam akan menyebabkan yang bersangkutan mempunyai self image “Saya tidak baik” dan ini akan menghambat kesuksesan seseorang. Sungguh apabila pelaku masih muda dan tentunya jalannya masih panjang, masa depannya akan dipertanyakan.

Rasa bersalah yang mungkin berusaha tidak diakui bisa menimbulkan penyakit“psikosomasis”.

Psikosomatisme (otonomi psikhofisiologis) ialah kondisi di mana sejumlah konflik psikis atau psikologis dan kecemasan menjadi sebab dari timbulnya macam-macam penyakit jasmaniah atau justru membuat semakin parahnya suatu penyakit jasmaniah yang sudah ada.

Contoh dalam hal ini yang dialami oleh kakak ipar, kebetulan ybs mengalami musibah menabrak orang, meski sudah bertanggung jawab dengan keluarga korban karena besarnya rasa bersalah tiba-tiba beberapa hari setelah kejadian mata kanan kakak ipar tidak bisa melihat, setelah dicek oleh dokter spesialis mata, ternyata tidak ada kelainan apapun pada mata tersebut. Apa yang dialami kakak ipar bisa dipahami, karena sang kakak ipar  ingin melupakan kejadian dan tidak ingin melihatnya, maka tubung (mata) merespon pikiran untuk tidak melihat. (Ingat masih ingat dengan tulisan saya tentang “Kekuatan Pikiran?”).

Akhirnya seiring dengan hubungan yang baik dengan keluarga korban, mata kakak ipar pun bisa pulih kembali.

—-

Buat pelaku lihatlah wajah cantik polos nan ceria alamarhumah Zahrah ini? suatu saat Anda  mungkin menjadi bapak dari seorang putri. Coba renungkan apa yang Anda rasakan apabila ada diposisi ayah dari Zahra?

 

1346963028765923365

 

Oke..mungkin membanyangkan menjadi bapak masih terlalu jauh.

Sekarang coba bayangkan tentang Anda sendiri, tentunya siapapun ingin sukses dan hidup bahagia. Misal Anda bercita-cita menjadi penyanyi terkenal, seorang roker yang banyak fans-nya. Untuk itu Anda perlu “self image” yang baik. Yakinlah dengan mengakui kesalahan, Anda akan lebih baik karena artinya Anda telah menerima diri Anda sendiri apa adanya.

Buat keluarga pelaku, terutama ayah ibunya, terimalah pelaku apa adanya dan berilah kasih sayang yang semestinya. Tidak ada kata terlambat untuk memberikan kasih sayang. Tunjukkan kasih sayang tersebut dengan cara benar. Mengakui kesalahan dan menyerahkan diri akan lebih baik buat masa depannya.

Percayalah keluarga korban sudah ikhlas dan apabila dari awal pelaku sudah mengakui kesalahan dan meminta maaf, kasus ini sudah close.

Salam,

BY

http://lifestyle.kompasiana.com/urban/2012/09/07/di-balik-perilaku-tabrak-lari/

* sebagai bentuk empati dan rasa solidaritas, silahkan share tulisan ini lewat social network Anda